Workshop AHASS Business Strategy
Strategy

Workshop AHASS Business Strategy

B
Budi Darma Head of L&D
Feb 26, 2026
4 min read
Back to Insights

Workshop 'Business Strategy Simulation - How to Leverage AHASS Business' kali ini *seru* *banget* dengan 35 peserta yang didominasi generasi *Strawberry*.

Workshop “Business Strategy Simulation - How to Leverage AHASS Business” kali ini seru banget dengan 35 peserta yang didominasi ‘generasi Strawberry’ atau ‘Homelanders’ (karena mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang pesat di rumah).
Interaksi, pemikiran dan candaan yang berbeda dengan gen X, apalagi baby boomers (yang lebih banyak jaim seperti berhadapan dengan calon mertua), gen Y & Z lebih spontan dalam berpendapat.

Dalam workshop, para peserta diajak memahami dan menjalani simulasi proses bisnis yang menjadi hal mendasar & mengenali faktor pengaruh bisnis secara external & internal, sehingga peserta mampu menganalisa demand dan membuat planning strategi yang baik dalam proses agility.

Dalam simulasi berpikir strategik, peserta mendapatkan insight bagaimana menganalisa masalah yang ada dan menentukan ‘root causes’ dengan tepat, karena kesalahan dalam penentuan root causes menyebabkan langkah selanjutnya dalam ‘positioning definingyang akhirnya penentuan strategi menjadi tidak efektif & solusi yang tidak tepat.

Konsistensi!, ini juga penting banget.
Contohnya, salah satu team menganalisa adanya potensi segmen Millenial & Zilenial yangdigital savvy’, lebih cenderung memilih ‘experience base’ (yang relate dengan emotional value) ketimbang product base (function value), pendekatan strateginya menggunakan teknologi digital sebagai marketing komunikasi, tapi turunan activity-nya kembali pada konten ‘hard sellingyang dianggap menjadi experiences pelanggan…

Loh…loh…loh..?,

Team ini lupa kalau menciptakan experience pelanggan itu bukan asal serba digital lalu tetap pada konten penawaran produk (hard selling)/product base, seharusnya sentuh emotional value pelanggan lewat semua pancainderanya.

Organisasi sering terjebak dalam euforia teknologi tanpa mempertimbangkan aspek manusia atau efisiensi prosesnya.

Penerapan teknologi yang tidak efektif dan berlebihan sering disebut sebagai penyebab ‘Technostress’ atau ‘Digital Fatigue’, pelanggan merasa terbebani oleh terlalu banyak aplikasi atau alat digital yang sebenarnya tidak membantu mereka jadi lebih mudah, ehh..malah ditawari produk,..cmiiww!

Nah, kalau begini apakah bisa jadi experience pelanggan?
Kalau mau ‘agile strategy’ jangan tanggung-tanggung ya!!😁

#Business#Growth#Strategy#Innovation